History of legong

​Sampai saat ini kebanyakkan orang tidak mengerti dan mengenal arti Legong yang sesungguhnya sebab banyak orang berpikir bahwa Legong itu hanya sebuah tarian biasa saja. Sehingga suatu saat lahirlah suatu tarian baru setelah jaman Legong yang dinamakan tarian Kebyar nah tarian inilah salah satu penyebabnya tersebut, sehingga suatu saat pelan tapi pasti Legong ini mulai diminati kembali seiring dengan tumbuhnya pariwisata dan keingintahuan sejarah dari tarian Bali. Tapi satu hal yang tidak bisa ditinggalkan yaitu bahwa tarian Legong ini memiliki keindahaan dan kemewahaan yang sangat sulit dibandingkan dengan tarian apapun kalo bisa dikatakan tarian Legong inilah merupakan inti dari semua tarian di Bali.
Tarian ini aslinya dimainkan dengan beberapa alat musik tradisional, sedangkan untuk penarinya Legong tersebut dipilih semenjak masih kecil dan pembawa tarian ini harus dibawah umur yang belum memasuki batasan puberitas, sedangkan untuk tempatnya biasanya diadakan di puri (istana) dengan halaman yang terbuka dan dibawah sinar bulan dimalam hari yang menembus rindangnya pohon. Sampai saat ini tarian Legong tersebut tercatat telah memiliki 18 jenis tarian diantaranya: Legong Lasem, Kupu-kupu Tarum, Jobog, Kuntul, Legod bawa, Smaradhana, Andir, Condong dan lain-lain. Selanjutnya sejarah dari Legong berawal mula pada abad ke 19 dimana Pangeran dari Sukowati pada saat itu sedang jatuh sakit dengan kondisi koma melihat dua gadis perawan menari dengan gemulai dan sangat menakjubkan bersamaan dengan itu juga dia mendengar suara musik yang indah. Setelah ia sembuh dari sakitnya maka ia mengumpulkan para seniman untuk menuangkan semuanya apa yang ia lihat dan dengar dari imajinasinya untuk diwujudkan, berawal dari situlah lahirnya nama tarian Legong